Friday, September 17, 2010

Warung "Mbak Nik" Spesial Ceker Ayam Sidoarjo

Di hari terakhir kami di rumah Eyang di Sidoarjo om saya yang saya panggil Oppo mengajak kami mencicipi kuliner yang sedang menjadi 'talk of the town' ya si Ceker ini. Mama yang lebih menyukai sajian Ceker yang 'nyemek' seperti masakan ceker ala Chinese Food kurang bersemangat sebenarnya, namun saya yang menyukai ceker dan juga sangat penasaran seperti apa sajian unggulannya - CEKER LAPINDHO - langsung mengiyakan. Wuih..

Akhirnya saya dan Oppo saja yang pergi membeli, niatnya take away aja. Lokasi Warung "Mbak Nik" ini terletak di jajaran warung 'amigos' (agak minggir got sedikit, LOL) dekat alun-alun kota Sidoarjo (punten, nggak tau nama jalannya, hehe) dan sudah pasti di tendanya tertulis besar-besar "Spesial Ceker Ayam" plus banner "Ceker Lapindho" yang berapi-api. Kami memesan 5 macam ceker, Ceker Lapindho si primadona, Ceker Balajo, Ceker Mentega, Ceker Asam Manis, dan Ceker Sup plus 5 bungkus kerupuk. Kami pun membawanya untuk dinikmati di rumah bersama yang lainnya.

Clockwise: Ceker Mentega, Ceker Asam Manis, Ceker Lapindho (cepat habisnya, LOL),
Ceker Balajo, Ceker Sup


Okay, now here goes the review:
Tiap porsi ceker terdiri dari 5 buah ceker, kalau beruntung dapat 1 buah kepala (kebanyakan orang benci kepala ayam, tapi ini justru jadi favorit saya karena daging dan kulitnya lebih banyak, :D) yang direbus dengan kuah yang uaaamat segar, bisa Lapindho, Balajo, dan sebagainya. Kita bahas satu persatu ya..

Saya punya obsesi tersendiri terhadap cabe hijau, mulai dari sambal ijo ala Padang hingga sekedar tambahan potongan cabe hijau di cumi masak mentega ala warung seafood pinggir jalan. Karena itu otomatis saya memesan Ceker Balajo yang dipenuhi potongan cabe hijau. Kuahnya segar karena adanya bawang dan favorit saya apabila si cabe hijau dikunyah krenyus. Wuah. Ceker Mentega-nya memiliki cita rasa khas seafood masak mentega, kecap Inggris-nya medok, ini favorit adik saya.

Yang sedikit mengecewakan ialah Ceker Sup dan Ceker Asam Manis. Ceker Sup-nya terlalu standar seperti sup ayam bening dengan potongan wortel dan 'bercak-bercak' merica. Segar sih, tapi terlalu biasa. Seperti comfort food untuk orang sakit. Sementara Ceker Asam Manis ketika dihirup kuahnya, HEGH, rasa nanasnya yang kental membuat rasa tidak nyaman di mulut saya. Selain itu, entah kenapa rasa asam nanas ini tidak cocok dengan tekstur ceker ayam.

Sekarang, primadona kita, CEKER LAPINDHO! Cita rasanya mirip tom yam kung minus daun ketumbar dengan semburat wangi kemangi dan potongan cabe rawit yang mengambang. Saya yang biasanya benci kemangi sangat bisa menolerir rasa kemangi di kuah Lapindho ini, kadarnya cukup untuk memberikan wangi yang menggugah selera. Kata om saya, Lapindho ini super pedas, namun ternyata tingkat kepedesannya jauuuuuh lebih ringan daripada yang saya bayangkan, tidak sampai keringatan dan menggeh-menggeh (walaupun sukses membuat saya cegukan, penyakit yang selalu muncul sebagai indikator kepedasan dan kelezatan suatu masakan :D). Padahal tante saya sudah jerit-jerit kepedasan, saya dan sepupu saya tenang-tenang saja, hehe. Sajian ceker yang satu ini sukses jadi yang paling pertama habis. Saya dan sepupu saya tidak berhenti-henti menyendoki kuahnya hingga tandas. This is my favorite!



1 comment:

asop said...

Wuuih, ceker!? :D
Enak sih...
Tapi resikonya pasti besar... :D