Saturday, October 11, 2008

taxi talk

Hari ini gue dan mama naik dua taksi yang berbeda dan supirnya dua-duanya doyan ngobrol! Tapi yang bikin gue bener-bener kaget itu supir taksi yang pertama. Begini nih ceritanya.


Gue dan mama mau bayar air di Bintaro dan untuk menuju ke sana kita naik taksi. Begitu gue dan mama buka pintu dan duduk, supirnya langsung salam 'Assalammualaikum'. Pembuka yang baik. Setelah membuka pembicaraan tentang asal daerah masing-masing, sang supir (yang punya nama Suhadi dan NIPnya 26096, serta berasal dari Kudus) pun mulai bercerita tentang orang-orang Papua yang suka royal (ya, secara si mama kan tinggal di Papua). Obrolan mengalir dan mengalir, dan akhirnya ia bercerita bahwa dulu ia pernah kerja di perusahaan kontraktor 'something' yang bekerjasama dengan perusahaan Jepang 'something'. He got 'PHK' di tahun 1999, masa-masanya gelombang PHK gila-gilaan tuh. Ia cerita ia dapet pesangon yang lebih besar daripada yang lain, karena ia sempat jadi orang kepercayaan si boss besar. Pesangon itu sempat ia pake usaha yang akhirnya gagal juga. That's why he ended as a taxi driver. Ia juga membeberkan bagaimana pekerjaannya dulu, termasuk bossnya yang punya masalah dengan perpajakan. Ternyata, si boss tea yang katanya sih (I didn't mean to be racist lho) Chinese, nilep uang yang harusnya buat bayar pajak sampai 1 milyar! D'oh.. ini nih yang ngancurin bangsa kita! Terus, si boss minta tolong Pak Suhadi ini buat negosiasi sama kantor pajaknya. Si boss wanti-wanti sama Pak Suhadi, kalo bisa bayar pajaknya 300 juta aja. Ternyata, dari negosiasi itu Pak Suhadi bisa nawar sampe 200 juta. Otomatis, yang 100 juta masuk deh ke kantongnya Pak Suhadi. Nah yang 70 juta ini yang dipake buat modal usahanya Pak Suhadi, 30 jutanya ia tabung. Tapi, dia bilang, karena ini uang 'panas' makanya usahanya nggak diridhoin Allah, bangkrut deh. Setelah ia bangkrut, 30 juta itulah yang jadi pegangan ia dan keluarganya. Pak Suhadi pun mencari cara agar uangnya tidak habis gitu aja. Dan ternyata Blue Bird ada lowongan, melamarlah ia. Untung, sekarang Pak Suhadi merasa betah di Blue Bird karena waktunya kan bebas milih sendiri, nggak ter-schedule seperti dulu saat ia kerja kantoran. Pak Suhadi juga cerita bahwa dulu ia pernah belajar nyetir saat ada proyek, emang modal cari duit katanya. Okay, kita jadikan itu pelajaran buat kita semua....


Pak Suhadi is a well-educated person, walaupun ia cuma lulusan SMA. Pak Suhadi juga cerita tentang bawahan-bawahan dia yang sering diundang makan-makan di rumahnya. Bawahan-bawahan dia yang notabene adalah insinyur, sarjana, atau minimal D3 dari universitas-universitas ternama di Indonesia aja sampe mengagumi banget Pak Suhadi ini (okay, ini ceritanya Pak Suhadi lho, gue sih percaya-percaya aja lah), karena mereka ngeliat si Bapak satu ini cuma lulusan SMA tapi punya rumah yang lumayan mewah dan kehidupan yang cukup mapan. He said "Ilmu untuk cari duit nggak bisa didapetin dari sekolah," it's life skill, you know, those communicating skill and stuff, I guess you all already knew that (asumsi bahwa pembaca blog saya adalah orang-orang terpelajar :p).


Gue sempet ngobrolin tentang Pak Suhadi bareng mama. Gue nanya, Pak Suhadi kan pinter noh, kenapa dia nggak bikin perusahaan kontraktornya sendiri? Paling nggak konsultan lah, dan dia nggak harus join-an sama orang (usahanya yang dulu bangkrut itu adalah hasil join-an dengan beberapa korban PHK juga). Terus si mama bilang "Kamu denger kan tadi ceritanya dia tentang adik-adiknya (Pak Suhadi sempet cerita sih, tentang adik-adiknya yang ia biayain kuliahnya dan sekarang jadi 'orang')? Dia sih yang penting orang-orang yang dia sokong bisa berhasil dan jadi 'orang'. Yang penting dia sekarang bahagia dengan hidupnya," hmm, iya juga ya, daripada nanti ia juga terjebak (lagi) dengan 'lingkaran setan' korupsi yang banyak terjadi di dunia bisnis sekarang ini, yang penting penghasilannya kan halal, dan kalo dia nggak jadi supir taksi, gue nggak bisa denger cerita itu dong... hehe..


Supir kedua, doyan ngobrol juga sih, cuma supir yang sekarang bernama A. Ramadhan dan NIPnya 59095 itu ngobrolnya ngalor ngidul kemana-mana. Kayanya apa aja yang di kepala dia dikeluarin aja deh. Yah, gue sempet dipuji pinter sih, karena dia tahu gue kuliah di ITB (Institut Terbaik Bangsa, aheeeeii) dan sempet sekolah di Insan Cendekia. Haha, self-boosting lah dikit..


Tapi, yang paling gue inget, kedua-duanya mesenin gue buat belajar yang baik dan nggak ngecewain orang tua. Ay ay, Sir! I'll keep that in mind.


Sebenarnya masih banyak lagi cerita tentang supir-supir taksi yang obrolannya berisi. Si mama sih yang paling sering dapet supir doyan ngobrol. Nanti kalo ada lagi bakal gue ceritain di sini.


xoxo


lawinda





No comments: